Tahun 1998, Indonesia berada di titik nadir. Krisis moneter melumpuhkan ekonomi, kerusuhan rasial meletus di kota-kota besar, dan puncaknya, rezim Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun runtuh dengan mundurnya Presiden Soeharto pada Mei 1998. Di tengah euforia Reformasi dan ketidakpastian politik, sebuah teror senyap namun brutal meletus di ujung timur Pulau Jawa.
Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Pembunuhan Dukun Santet 1998-1999, atau lebih populer disebut Tragedi Santet Banyuwangi. Ini bukanlah sekadar amuk massa biasa terhadap praktik ilmu hitam, melainkan sebuah kampanye pembunuhan sistematis, misterius, dan terorganisir yang menewaskan ratusan orang. Para pelakunya, yang bergerak dalam kegelapan, dijuluki "Ninja".
Hingga hari ini, peristiwa ini tetap menjadi salah satu misteri terbesar era Reformasi, sebuah luka yang tak tersembuhkan di mana batas antara histeria massa, konflik sosial, dan operasi intelijen tingkat tinggi menjadi kabur.
Latar Belakang: Krisis, Superstisi, dan Kekosongan Kekuasaan
Untuk memahami tragedi ini, kita harus melihat tiga konteks utama yang melingkupinya:
Konteks Sosial-Budaya: Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, Jember, dan sekitarnya, memiliki kepercayaan yang kuat terhadap santet (ilmu hitam/tenung). Seorang dukun bisa menjadi figur yang dihormati (sebagai penyembuh) sekaligus ditakuti (jika dituduh sebagai dukun santet). Di masa lalu, konflik akibat tuduhan santet sering terjadi, namun biasanya bersifat sporadis dan individual.
Konteks Ekonomi: Krisis moneter 1997-1998 menghantam masyarakat paling bawah. Kemiskinan, pengangguran, dan kecemasan sosial meroket. Dalam situasi seperti ini, santet sering dijadikan kambing hitam atas kemalangan pribadi, seperti penyakit yang tak kunjung sembuh atau kegagalan panen.
Konteks Politik: Runtuhnya Orde Baru menciptakan kekosongan kekuasaan. Aparat keamanan (saat itu ABRI, kini TNI/Polri) kehilangan wibawa setelah dianggap sebagai alat represi rezim Soeharto. Di saat yang sama, kekuatan politik baru muncul, terutama Nahdlatul Ulama (NU) yang dimotori oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kebangkitan NU, melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dilihat sebagai ancaman oleh sisa-sisa kekuatan Orde Baru.
Kronologi Teror dan Modus Operandi "Ninja"
Tragedi ini tidak meledak seketika, melainkan berevolusi dalam beberapa fase.
Fase Awal (Februari - Juli 1998): Pembunuhan Sporadis Awalnya, pembunuhan terjadi di Banyuwangi dan dimulai seperti konflik sosial biasa. Isu dukun santet merebak. Muncul selebaran-selebaran berisi daftar nama orang-orang yang dituduh memiliki ilmu hitam. Massa yang terprovokasi kemudian melakukan perburuan, menangkap, dan membunuh para tertuduh dengan brutal. Pada fase ini, aparat keamanan seolah lumpuh dan membiarkan main hakim sendiri terjadi.
Fase Puncak (Agustus - Oktober 1998): Era Teror "Ninja" Memasuki Agustus 1998, pola pembunuhan berubah drastis. Aksi yang tadinya terlihat seperti amuk massa kini menjadi terorganisir, senyap, dan efisien. Di sinilah istilah "Ninja" muncul.
Ciri khas operasi "Ninja" ini adalah:
Pelaku: Sekelompok orang (biasanya 5-10 orang) berpakaian serba hitam, mengenakan penutup wajah (topeng atau sebo), dan bergerak sangat lincah di malam hari.
Sistematis: Para pelaku memiliki data yang akurat. Mereka membawa daftar target, mengetahui denah rumah korban, dan seolah tahu persis siapa yang harus dieksekusi.
Profesional: Mereka bergerak dengan presisi militer. Mereka mampu melumpuhkan penjagaan (banyak korban dibunuh meski lingkungan sedang melakukan siskamling/ronda), membobol rumah tanpa suara, dan mengeksekusi target dengan cepat menggunakan senjata tajam (celurit, parang) atau senjata tumpul.
Psikologi Teror: Para pelaku seringkali meninggalkan jejak yang membingungkan, seperti mencoret-coret dinding atau meninggalkan "tanda" tertentu, yang semakin menebalkan atmosfer teror.
Pergeseran Target: Dari Dukun Santet ke Kyai NU
Inilah anomali terbesar dari peristiwa ini. Seiring berjalannya waktu, target pembunuhan bergeser. Para "Ninja" tidak lagi hanya memburu mereka yang dituduh sebagai dukun santet.
Target operasi meluas ke tokoh-tokoh agama (Kyai), guru ngaji, dan kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) yang justru dikenal sebagai penentang praktik perdukunan. Banyak kyai kampung dan ustadz yang tidak punya kaitan apa pun dengan santet ditemukan tewas mengenaskan di rumah atau mushala mereka.
Pergeseran target inilah yang menggeser dugaan dari sekadar histeria massa menjadi sebuah operasi politik terencana. NU, melalui PBNU dan Gus Dur, adalah yang pertama kali berteriak lantang bahwa ini bukan sekadar urusan santet, melainkan ada "dalang" yang bermain untuk mendelegitimasi NU dan menciptakan kekacauan horizontal.
Korban dan Dampak
Angka pasti jumlah korban sulit dipastikan, namun angkanya mencapai ratusan jiwa. Data dari berbagai sumber, termasuk KontraS dan tim investigasi, menyebutkan:
Di Banyuwangi saja, antara Februari hingga September 1998, diperkirakan 143 orang tewas.
Jika digabungkan dengan wilayah lain seperti Jember, Malang, Pasuruan, Sumenep (Madura), dan wilayah lain di Jawa Timur serta sebagian Jawa Tengah, total korban jiwa diperkirakan lebih dari 200 orang.
Dampak sosialnya sangat menghancurkan. Ketakutan melumpuhkan desa-desa. Warga, terutama para kyai dan tokoh masyarakat, terpaksa mengungsi. Pos-pos ronda yang didirikan warga terbukti tidak efektif melawan kebrutalan "Ninja" yang terorganisir. Kepercayaan antarwarga runtuh.
Teka-Teki Pelaku dan Teori Konspirasi
Siapakah "Ninja" ini? Hingga kini, identitas dan dalang utama mereka tidak pernah terungkap secara tuntas. Beberapa teori utama yang berkembang adalah:
Teori Histeria Massa (Konflik Horizontal) Ini adalah penjelasan awal yang sering digunakan aparat. Teori ini menyatakan bahwa pembunuhan murni dipicu oleh keresahan sosial, kemiskinan, dan kepercayaan takhayul tentang santet. Namun, teori ini gagal menjelaskan mengapa pembunuhan menjadi begitu sistematis dan mengapa para Kyai NU ikut menjadi sasaran.
Teori Operasi Intelijen (Konflik Vertikal) Ini adalah teori yang paling kuat dan diyakini oleh banyak pihak, termasuk Gus Dur dan TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta). Teori ini meyakini ada "aktor negara" (elements in the state) atau "non-negara" yang terlatih secara militer di baliknya.
Motif:
Destabilisasi Politik: Menciptakan kekacauan untuk mendelegitimasi pemerintahan baru B.J. Habibie dan membuktikan bahwa era Reformasi lebih buruk dari Orde Baru.
Menyerang NU: Menghancurkan basis kekuatan NU (PKB) yang sedang naik daun menjelang Pemilu 1999. Dengan meneror para kyai, diharapkan basis massa NU akan ketakutan.
Politik Adu Domba: Membenturkan NU dengan kelompok lain, atau bahkan dengan ABRI/TNI, menciptakan citra bahwa NU tidak mampu mengendalikan massanya sendiri.
Teori Kriminal Murni dan Konflik Internal Teori lain menyebutkan adanya konflik internal di dalam NU (yang segera dibantah) atau murni aksi perampok yang memanfaatkan isu santet sebagai kedok. Namun, teori ini juga lemah karena para korban dari kalangan kyai umumnya bukanlah orang kaya.
Investigasi Gagal dan Impunitas
Pemerintah membentuk berbagai tim investigasi, termasuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang menemukan indikasi kuat adanya keterlibatan "pihak terlatih" dan menyebutnya sebagai organized crime.
Namun, proses hukum di lapangan menemui jalan buntu. Puluhan orang yang ditangkap dan dituduh sebagai "Ninja" seringkali adalah "kambing hitam". Banyak dari mereka adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), preman kecil, atau warga biasa yang dipaksa mengaku setelah disiksa.
Para dalang intelektual atau komandan lapangan dari operasi ini tidak pernah tersentuh hukum, mengukuhkan sebuah era impunitas (kekebalan hukum) atas kejahatan kemanusiaan.
Pengakuan Negara sebagai Pelanggaran HAM Berat
Setelah lebih dari dua dekade mengambang dalam ketidakpastian, titik terang non-yudisial akhirnya muncul.
Pada tahun 2007, Komnas HAM menetapkan Peristiwa Pembunuhan Dukun Santet 1998-1999 sebagai salah satu kasus Pelanggaran HAM Berat.
Puncaknya, pada 11 Januari 2023, Presiden Joko Widodo secara resmi mengakui dan menyesalkan terjadinya 12 peristiwa pelanggaran HAM berat di masa lalu, termasuk "Peristiwa Pembunuhan Dukun Santet 1998-1999". Pengakuan ini adalah langkah awal dari pemerintah untuk memberikan pemulihan hak-hak korban melalui jalur non-yudisial.
Meski demikian, bagi para keluarga korban dan aktivis HAM, pengakuan ini belum cukup. Mereka menuntut penyelesaian yudisial—membawa para pelaku dan dalang ke pengadilan—untuk mengakhiri impunitas yang telah berlangsung puluhan tahun.
Kesimpulan
Tragedi Santet Banyuwangi 1998-1999 adalah noda hitam yang kompleks dalam sejarah Indonesia. Ia adalah perpaduan mengerikan antara takhayul kuno, kemiskinan struktural, dan politik adu domba yang brutal di masa transisi. Peristiwa ini adalah bukti bagaimana ketakutan dan isu SARA dapat dieksploitasi oleh kekuatan politik untuk tujuan destabilisasi.
Para "Ninja" mungkin telah lenyap, tetapi misteri siapa mereka dan siapa yang menggerakkan mereka tetap hidup, menjadi pengingat abadi akan rapuhnya kemanusiaan di hadapan kekuasaan yang gelap.

0 Komentar