Kota Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara, sekali lagi diterjang oleh bencana banjir besar yang melumpuhkan sebagian besar aktivitas kota. Intensitas curah hujan ekstrem yang terjadi selama beberapa hari terakhir, diperparah dengan kondisi geografis dan permasalahan tata ruang kota, telah menyebabkan meluasnya genangan air, memaksa puluhan ribu warga mengungsi, dan menimbulkan korban jiwa.
1. Kronologi dan Penyebab Utama Banjir
Banjir besar ini mulai terjadi secara signifikan sejak malam hari tanggal 26 November dan memuncak pada 27 dan 28 November 2025. Setidaknya 19 dari 21 kecamatan di Kota Medan dilaporkan terdampak, menunjukkan skala bencana yang hampir merata di seluruh wilayah.
A. Faktor Cuaca Ekstrem
Penyebab utama dari bencana ini adalah curah hujan yang sangat tinggi. Menurut laporan dari BMKG, kondisi ini dipicu oleh keberadaan Siklon Tropis KOTO dan Siklon 95B yang meningkatkan intensitas hujan di wilayah Sumatera bagian utara. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama tiga hari menyebabkan sistem drainase kota tidak mampu menampung debit air.
B. Luapan Sungai
Kondisi cuaca ekstrem diperparah dengan meluapnya tiga sungai utama yang melintasi Kota Medan, yaitu Sungai Deli, Sungai Babura, dan Sungai Belawan. Luapan ini, terutama di kawasan yang berdekatan dengan bantaran sungai seperti Medan Maimun dan Medan Utara, menyebabkan ketinggian air mencapai pinggul hingga dada orang dewasa, bahkan hampir 2 meter di beberapa titik parah.
C. Faktor Lingkungan dan Tata Kota
Banjir ini menjadi langganan di Medan karena adanya masalah struktural jangka panjang:
Kerusakan Lingkungan Hulu: Kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan dan penurunan tutupan vegetasi di wilayah hulu (sekitar Deli Serdang dan dataran tinggi lainnya) membuat daya serap air tanah berkurang drastis, menyebabkan limpasan air hujan langsung menuju sungai-sungai.
Permasalahan Drainase: Banyak saluran drainase di kota yang mengalami pendangkalan (sedimentasi) dan penyumbatan akibat sampah atau penutupan paksa oleh bangunan/lapak pedagang kaki lima, menyebabkan air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar.
Banjir Rob (di Medan Utara): Khusus di kawasan Medan Utara (Medan Deli, Labuhan, Marelan, dan Belawan), banjir diperparah oleh fenomena pasang laut (rob) yang menghambat air sungai untuk bermuara ke laut.
2. Dampak Bencana yang Meluas
Dampak dari banjir kali ini sangat parah dan meluas di berbagai sektor:
A. Korban Jiwa dan Pengungsi
Korban Jiwa: Dilaporkan sebanyak 7 orang meninggal dunia akibat bencana ini. Beberapa korban tewas karena keracunan asap generator set (genset) yang digunakan untuk penerangan di dalam ruangan, dan ada pula korban yang hanyut di sungai atau lansia dengan kondisi kesehatan yang menurun.
Pengungsi: Total tercatat lebih dari 85.591 jiwa mengungsi di sekitar 305 lokasi pengungsian yang tersebar di seluruh kota. Kawasan Medan Helvetia mencatat jumlah warga terdampak terbesar pada fase awal.
B. Infrastruktur dan Layanan Publik
Akses Transportasi: Sejumlah ruas jalan utama lumpuh total, termasuk di Simpang Kampung Lalang, Simpang Manhattan, dan jalan menuju Tol Bandar Selamat. Akses logistik dan transportasi menjadi sangat terganggu.
Gangguan Listrik dan BBM: Lima gardu induk PLN dilaporkan terendam, menyebabkan pemadaman listrik di banyak lokasi. Bersamaan dengan itu, terjadi gangguan distribusi BBM yang memicu antrean panjang di SPBU dan kenaikan harga jual eceran.
Kerusakan Fasilitas: Sejumlah sekolah dan Puskesmas terendam, menyebabkan kerusakan pada komputer dan fasilitas kesehatan. Kerusakan jalan juga dilaporkan terjadi di daerah bibir sungai seperti Amplas dan Kelurahan Hamdan.
3. Penanganan dan Status Tanggap Darurat
Menyikapi bencana ini, Pemerintah Kota Medan langsung menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir hingga 11 Desember 2025.
A. Upaya Evakuasi dan Logistik
Pengerahan Tim: Wali Kota Medan mengerahkan seluruh jajaran, termasuk camat, lurah, BPBD, TNI, dan Polri, untuk fokus pada evakuasi, terutama di wilayah Medan Utara yang sempat mengalami putusnya sinyal komunikasi.
Penyediaan Logistik: Sebanyak 157 dapur umum didirikan di lokasi-lokasi pengungsian untuk memastikan kebutuhan pangan harian para pengungsi tercukupi. Prioritas bantuan logistik diberikan kepada warga di kawasan Medan Utara.
B. Sinergi dan Rencana Jangka Panjang
Pemerintah Kota Medan tengah bersinergi dengan PLN dan Pertamina untuk mengatasi masalah listrik padam dan kelangkaan BBM yang terjadi. Untuk penanganan jangka panjang, Pemko Medan berkomitmen untuk:
Normalisasi Sungai dan Drainase: Melanjutkan program normalisasi sungai dan pembangunan/perbaikan saluran drainase di banyak titik.
Pembangunan Kolam Retensi: Mempercepat pembangunan kolam retensi (penampungan air) untuk mengurangi limpasan air ke pemukiman.
Konservasi Lingkungan Hulu: Mendorong upaya konservasi di daerah hulu untuk memulihkan daya serap air.
Saat ini, genangan air di banyak lokasi sudah berangsur surut dan berada pada ketinggian mata kaki hingga betis. Namun, kondisi ini masih membutuhkan pemulihan pasca-bencana, termasuk pembersihan material lumpur dan puing-puing, serta penanganan warga yang masih berada di pengungsian.

0 Komentar