Kota Sibolga, yang terletak di pesisir barat Sumatera Utara dengan topografi berbukit, sering kali dihadapkan pada ancaman bencana hidrometeorologi. Serangkaian bencana banjir dan longsor besar telah berulang kali melanda wilayah ini, meninggalkan duka mendalam dan kerugian material yang sangat besar. Peristiwa terbaru dan yang paling parah terjadi pada akhir November 2025, yang memperlihatkan kerentanan kota ini terhadap bencana alam.
📅 Kronologi Bencana: November 2025
Bencana besar yang terjadi pada Senin, 24 November 2025, dipicu oleh hujan deras dengan intensitas ekstrem yang mengguyur Kota Sibolga dan wilayah sekitarnya, termasuk Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), selama berhari-hari. Curah hujan yang tinggi ini menyebabkan dua bencana utama terjadi secara simultan dan berantai:
Banjir Bandang: Sungai-sungai meluap dengan cepat, menyeret lumpur, puing-puing bangunan, hingga kayu-kayu gelondongan yang diduga berasal dari area Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) di Area Penggunaan Lain (APL) atau deforestasi di wilayah hulu. Air bah ini merendam puluhan kelurahan di empat kecamatan Kota Sibolga, seperti Angin Nauli, Aek Muara Pinang, Aek Habil, Pasar Belakang, dan Pasar Baru.
Tanah Longsor: Kondisi tanah yang jenuh air memicu longsor di banyak titik, terutama di lereng-lereng perbukitan yang padat penduduk. Dilaporkan terjadi longsor di 18 titik lokasi di Sibolga, termasuk area Tangga Seratus, Bukit Aido, dan belakang SMP Negeri 5 Sibolga.
Peristiwa ini menjadi salah satu bencana alam dengan dampak terparah dalam sejarah modern Sibolga, mengingatkan pada tragedi banjir dahsyat yang pernah melanda kota ini pada tahun 1956.
💔 Dampak Bencana yang Signifikan
Dampak dari gabungan bencana longsor dan banjir ini sangat luas, mencakup aspek kemanusiaan, infrastruktur, dan ekonomi:
1. Korban Jiwa dan Kemanusiaan
Korban Jiwa: Data terkini (per awal Desember 2025) menunjukkan bahwa bencana ini menyebabkan sedikitnya 44 orang meninggal dunia (data terus berkembang) di Sibolga. Angka ini mencakup korban yang tertimbun longsor dan terseret arus banjir.
Korban Hilang dan Luka: Selain korban meninggal, belasan orang lainnya dilaporkan hilang dan diduga masih tertimbun material longsoran. Sejumlah warga juga mengalami luka-luka dan harus dirawat.
Pengungsian: Ribuan warga (sekitar 2.375 jiwa per 29 November 2025) terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka hancur atau dinyatakan tidak layak huni.
2. Kerusakan Infrastruktur dan Material
Kerusakan Rumah: Tercatat sekitar 231 unit rumah mengalami kerusakan berat dan hancur total akibat terjangan longsor dan banjir bandang, banyak yang dinyatakan tidak layak huni.
Akses Transportasi Putus: Akses jalan utama, seperti Jalur Nasional Sibolga–Padangsidimpuan dan Sibolga–Tarutung, putus total dan tertutup material longsoran di banyak titik.
Jembatan Rusak: Beberapa jembatan vital, termasuk Jembatan Pandan, terputus, menyebabkan tujuh wilayah di Mandailing Natal (Madina) terisolasi.
Lumpuhnya Jaringan Komunikasi: Sejumlah tiang listrik tumbang, gardu tergenang, dan akses jalan yang tertutup material longsoran menyebabkan jaringan telekomunikasi seluler dan internet lumpuh total di Sibolga dan Tapteng.
3. Dampak Lingkungan dan Lainnya
Deforestasi: Munculnya kayu-kayu gelondongan dalam jumlah besar pada arus banjir memicu dugaan kuat adanya praktik deforestasi dan kerusakan tata ruang di wilayah hulu yang memperparah potensi bencana.
Krisis Kebersihan: Kerusakan pada fasilitas air minum dan sanitasi menimbulkan risiko krisis air bersih dan peningkatan penyakit pasca-bencana.
Kerugian Ekonomi: Selain kerugian aset pribadi, lumpuhnya jalur transportasi dan komunikasi berdampak pada aktivitas ekonomi di Sibolga dan Tapanuli Tengah.
⚠️ Mitigasi dan Peringatan Bencana
Bencana berulang ini menjadi alarm keras mengenai urgensi mitigasi bencana di Sibolga, mengingat topografi yang berbukit dan lokasi di pesisir.
Penataan Ruang: Diperlukan pengendalian ketat terhadap penataan ruang, memastikan zona berbahaya longsor tidak dikembangkan menjadi permukiman padat.
Sistem Peringatan Dini: Pemasangan dan peningkatan jumlah sistem peringatan dini longsor dan banjir sangat krusial.
Rehabilitasi Lingkungan: Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam merehabilitasi lingkungan, terutama mengatasi masalah deforestasi yang disinyalir menjadi faktor pemicu.
Edukasi Masyarakat: Peningkatan kemampuan mitigasi dan kesadaran bencana bagi masyarakat yang tinggal di zona rawan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama BPBD, Basarnas, TNI-Polri, dan relawan terus berupaya mempercepat penanganan darurat, evakuasi, dan pemulihan, namun masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan longsor susulan.

0 Komentar