SAMARINDA – Situasi di pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur memanas setelah aksi unjuk rasa ribuan warga dan mahasiswa berakhir ricuh pada Rabu (22/4/2026). Massa yang memadati area depan Kantor Gubernur dan Gedung DPRD Kaltim menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan anggaran yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil.
Aksi yang dimulai sejak pagi hari ini awalnya berjalan tertib, namun tensi meningkat saat massa mencoba menerobos barikade kepolisian untuk menemui langsung Penjabat Gubernur. Aksi saling dorong dan pelemparan benda tumpul tak terhindarkan, memaksa petugas keamanan melepaskan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.
Kritik Tajam atas Anggaran "Fantastis"
Inti dari kemarahan massa bersumber pada dialokasikannya dana APBD yang dianggap mencederai rasa keadilan sosial. Para demonstran menyoroti dua poin anggaran utama yang dinilai sebagai pemborosan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit:
- Pengadaan Mobil Dinas: Alokasi anggaran sebesar Rp 8,5 miliar untuk deretan kendaraan dinas baru.
Renovasi Rumah Jabatan: Pembangunan dan renovasi rumah jabatan yang menelan biaya mencapai Rp 25 miliar.
"Sangat ironis ketika rakyat masih berjuang dengan harga kebutuhan pokok yang tinggi dan infrastruktur jalan yang rusak, pemerintah justru sibuk mempercantik fasilitas pribadi dengan dana miliaran rupiah," ujar salah satu koordinator lapangan dalam orasinya.
Tuntutan Evaluasi Kebijakan
Aliansi mahasiswa dan warga mendesak agar Gubernur Rudy Mas'ud segera melakukan evaluasi total terhadap kebijakan anggaran tersebut. Mereka menuntut agar dana puluhan miliar itu dialihkan untuk program yang menyentuh langsung kepentingan publik, seperti subsidi pangan, perbaikan fasilitas kesehatan, dan pendidikan di pelosok Kaltim.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah perwakilan massa masih mencoba melakukan negosiasi dengan anggota DPRD Kaltim untuk memastikan tuntutan mereka sampai ke telinga pemerintah pusat. Pihak kepolisian masih berjaga ketat di titik-titik vital Kota Samarinda guna mengantisipasi aksi susulan.

0 Komentar