Skandal Predator Anak di SMP Indramayu: Korban Diduga Tembus 22 Siswa, Polisi Buru Pelaku yang Buron


INDRAMAYU
– Kasus dugaan pelecehan seksual yang mengguncang salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Indramayu memasuki babak baru yang semakin kelam. Jumlah korban yang semula dilaporkan hanya beberapa orang, kini membengkak secara drastis. Berdasarkan pendalaman terbaru, diduga lebih dari 22 siswa telah menjadi korban aksi bejat oknum guru ekstrakurikuler tersebut.

Situasi semakin memanas setelah diketahui bahwa pelaku kini melarikan diri dan ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO). Pihak kepolisian resort Indramayu pun terus melakukan pengejaran intensif untuk menyeret pelaku ke meja hijau.

Sekolah Dianggap Lambat Merespons

Kekecewaan mendalam menyelimuti para orang tua korban dan aktivis perlindungan anak. Pihak sekolah dituding bersikap pasif dan lambat dalam menindaklanjuti laporan awal dari para siswa. Kelambanan respons ini diduga memberikan celah bagi oknum guru tersebut untuk menghilangkan jejak dan melarikan diri sebelum aparat hukum bertindak.

"Kami sangat menyayangkan sikap manajemen sekolah. Seharusnya sejak laporan pertama muncul, ada langkah proteksi dan koordinasi cepat dengan pihak berwajib agar pelaku tidak punya kesempatan kabur," ujar salah satu perwakilan keluarga korban.

Poin Utama Perkembangan Kasus:

  • Identitas Pelaku: Oknum guru tersebut merupakan pembina kegiatan ekstrakurikuler yang menggunakan otoritasnya untuk mengintimidasi korban.
  • Trauma Mendalam: Saat ini, ke-22 siswa yang teridentifikasi tengah mendapatkan pendampingan dari tim psikolog dan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Indramayu.
  • Desakan Evaluasi: Masyarakat mendesak Dinas Pendidikan setempat untuk mengevaluasi total sistem pengawasan di sekolah guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Polisi Perketat Pengejaran

Kapolres Indramayu menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan toleransi sedikit pun terhadap pelaku kejahatan seksual anak. "Kami sudah mengantongi identitas dan titik koordinat terakhir pelaku. Kami menghimbau masyarakat yang melihat atau mengetahui keberadaan yang bersangkutan untuk segera melapor," tegasnya.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi institusi pendidikan untuk lebih peka dan tanggap terhadap setiap aduan perundungan maupun pelecehan, demi menjaga ruang aman bagi tunas bangsa.



Posting Komentar

0 Komentar